Sepi yang Tinggal Lama

Rumah ini sunyi, Pak.

Bukan lagi karena Bapak pergi sementara,
tapi karena kali ini
tak ada langkah yang akan kembali.

Kursimu tetap di sana,
menghadap televisi yang kini lebih sering mati.
Tak ada lagi yang mengeluh soal berita,
tak ada lagi suara kecilmu
yang menanyakan hal-hal sederhana.

Kami masih memanggilmu dalam kebiasaan tanpa sadar.
Lalu terdiam,
karena nama itu kini
hanya bergema di dalam dada.

Ibu lebih banyak diam,
dan aku belajar
bahwa kehilangan
tidak selalu datang dengan tangis keras,
kadang ia tinggal lama
dalam bentuk sepi yang sopan.

Di rumah ini,
kau berbaring di antara dinding
yang menyimpan seluruh hidupmu.
Tak banyak kata,
hanya napas yang perlahan pergi,
dan kami yang belajar
melepaskan tanpa benar-benar siap.

Bapak,
rumah ini tidak runtuh,
tapi ada bagian yang tak bisa diperbaiki.

Dan kami akan hidup seperti biasa—
katamu dulu begitu.
Meski kini kami tahu,
biasa adalah cara lain
menyebut rindu yang tidak pernah selesai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Arah Pulang yang Hilang