Arah Pulang yang Hilang
Rumah ini masih sama, Pak,
tidak ada yang benar-benar berubah
kecuali satu hal—
Bapak tidak lagi di dalamnya.
Aku masih duduk di tempat yang biasa,
masih mendengar suara yang sama,
tapi semuanya terasa jauh
sejak Bapak tidak menjawab lagi.
Dan aku sudah kehilangan arah pulang.
Setiap kali masalah datang,
aku diam lebih lama dari biasanya,
menunggu sesuatu yang dulu selalu ada—
suaramu.
Dulu,
aku tidak pernah benar-benar takut
pada rumitnya hidup,
karena selalu ada Bapak
yang berdiri di tengah,
menenangkan,
menjelaskan,
dan membuat semuanya terasa cukup.
Sekarang,
aku hanya punya diri sendiri
yang sering kali tidak tahu harus bagaimana.
Pak,
aku rindu ditanya hal-hal sederhana,
rindu dipanggil dengan nada yang sama,
rindu punya tempat berpihak
tanpa harus menjelaskan apa-apa.
Aku ingin sekali kembali
ke hari-hari ketika semuanya terasa aman,
ketika aku tahu
bahwa seberat apa pun dunia,
aku selalu punya tempat untuk pulang.
Sekarang,
aku hanya belajar berdiri
di ruang yang terlalu sunyi,
menyimpan semua cerita
yang tidak sempat kusampaikan.
Kalau saja rindu bisa menemukan jalan,
aku ingin ia sampai padamu,
lalu duduk di sampingmu,
dan bilang pelan—
“Aku masih butuh Bapak.”
Komentar
Posting Komentar