Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

Kursi yang Kosong

Aku sudah lulus, Pak toga ini menunggu matamu yang dulu penuh harap namun, di deretan kursi nanti ada yang hilang engkau pergi lebih dahulu, membawa setengah banggaku.

Arah Pulang yang Hilang

Rumah ini masih sama, Pak, tidak ada yang benar-benar berubah kecuali satu hal— Bapak tidak lagi di dalamnya. Aku masih duduk di tempat yang biasa, masih mendengar suara yang sama, tapi semuanya terasa jauh sejak Bapak tidak menjawab lagi. Dan aku sudah kehilangan arah pulang. Setiap kali masalah datang, aku diam lebih lama dari biasanya, menunggu sesuatu yang dulu selalu ada— suaramu. Dulu, aku tidak pernah benar-benar takut pada rumitnya hidup, karena selalu ada Bapak yang berdiri di tengah, menenangkan, menjelaskan, dan membuat semuanya terasa cukup. Sekarang, aku hanya punya diri sendiri yang sering kali tidak tahu harus bagaimana. Pak, aku rindu ditanya hal-hal sederhana, rindu dipanggil dengan nada yang sama, rindu punya tempat berpihak tanpa harus menjelaskan apa-apa. Aku ingin sekali kembali ke hari-hari ketika semuanya terasa aman, ketika aku tahu bahwa seberat apa pun dunia, aku selalu punya tempat untuk pulang. Sekarang, aku hanya belajar berdiri di ruang yang terlalu sunyi,...

Sepi yang Tinggal Lama

Rumah ini sunyi, Pak. Bukan lagi karena Bapak pergi sementara, tapi karena kali ini tak ada langkah yang akan kembali. Kursimu tetap di sana, menghadap televisi yang kini lebih sering mati. Tak ada lagi yang mengeluh soal berita, tak ada lagi suara kecilmu yang menanyakan hal-hal sederhana. Kami masih memanggilmu dalam kebiasaan tanpa sadar. Lalu terdiam, karena nama itu kini hanya bergema di dalam dada. Ibu lebih banyak diam, dan aku belajar bahwa kehilangan tidak selalu datang dengan tangis keras, kadang ia tinggal lama dalam bentuk sepi yang sopan. Di rumah ini, kau berbaring di antara dinding yang menyimpan seluruh hidupmu. Tak banyak kata, hanya napas yang perlahan pergi, dan kami yang belajar melepaskan tanpa benar-benar siap. Bapak, rumah ini tidak runtuh, tapi ada bagian yang tak bisa diperbaiki. Dan kami akan hidup seperti biasa— katamu dulu begitu. Meski kini kami tahu, biasa adalah cara lain menyebut rindu yang tidak pernah selesai.

Yang Tidak Bisa Diperbaiki

Kehilangan Bapak itu aneh yang pergi satu orang yang hilang seperti setengah dunia.